Sejarah kesehatan umat manusia tidak hanya ditulis di ruang laboratorium modern, tetapi juga ditulis pada lembar-lembar naskah tua beraksara Arab Jawi. Naskah-naskah ini menjadi jembatan antara dunia medis tradisional Nusantara dengan khazanah ilmu kedokteran Islam klasik.
Salah satunya adalah naskah pengobatan berjudul Makjun: Obat Sultan Negeri Rum. Naskah pengobatan ini bukan sekadar sebutan geografis untuk Byzantium, melainkan simbol peradaban Turki Utsmani, pusat ilmu pengetahuan Islam pada abad pertengahan. Turki Utsmani, menyinergikan tradisi Yunani, Persia, dan Arab dalam bidang ilmu kesehatan. Dari istana Istanbul hingga ke pelosok Nusantara, pengetahuan makjun bertransformasi melalui jalur perdagangan, dakwah, dan interaksi ulama, sehingga Aceh pun menjadi salah satu pintu gerbang transfer ilmu tersebut. Naskah Makjun mencerminkan kosmopolitanisme pengobatan Islam: ramuan yang terdiri dari rempah, bunga, buah, bahkan bahan hewani, diracik bukan sekadar untuk mengobati penyakit, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan tubuh, jiwa, dan spiritualitas. Inilah bentuk awal “farmakologi lintas peradaban”, di mana sains bercampur dengan nilai religius dan budaya. Bagi masyarakat Aceh, naskah makjun ini menjadi dokumen medis yang ditulis ulang, dilafalkan, lalu keilmuan Islam ini diwarisi hingga kini. Di dalam naskah tersebut kita menemukan resep panjang berisi ramuan rempah, bunga, buah, hingga bahan hewani. Semua ditumbuk, dicampur dengan madu, lalu diolah menjadi makjun, adonan obat yang diyakini mampu “menghilangkan segala penyakit dan memperbaiki segala keluhan anggota tubuh.” Dari istana Sultan di Istanbul, jejak makjun sampai ke tanah Aceh.
Ramuan Ilmu dan Mistik.
Makjun dalam bahasa Arab berarti ma‘jūn, adonan. Di dunia Islam klasik, makjun populer dalam bentuk obat mujarab, simbol kebijaksanaan. Resep makjun menyebutkan puluhan bahan rempah yaitu pala, bunga melur, jintan putih dan hitam, kapur barus, kasturi, cengkih, halia, adas, hingga madu. Secara farmakologis modern, hampir semua bahan tersebut memiliki khasiat jelas yaitu, pala dan adas sebagai karminatif, jintan untuk pencernaan, halia dan lengkuas sebagai antiinflamasi, kasturi dan kapur barus sebagai stimulan pernapasan, serta madu sebagai pelarut sekaligus pengawet. Makjun juga memberi nuansa mistik. Ada larangan: “ubat ini tiada boleh orang muda makan dia,” atau “jangan diberikan kepada orang muda yang haru-biru” . Ada aura kerahasiaan, seakan ramuan ini hanya untuk kalangan tertentu. Begitulah cara lama menjaga kewibawaan ilmu dengan mengaitkan pada status sosial, etika, dan mistisisme.
Aceh sebagai Gerbang Ilmu.
Aceh sejak abad ke-16 dikenal sebagai pusat transmisi ilmu Islam di Asia Tenggara. Dari Timur Tengah dan Turki, kitab tibb diterjemahkan ke dalam bahasa Jawi, dipelajari di dayah, lalu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Makjun Sultan Negeri Rum adalah salah satu bukti nyata. Proses ini bukan hanya sekadar adopsi, tetapi juga indigenisasi. Banyak resep menggabungkan bahan impor (kasturi, kapur barus, cengkih) dengan flora lokal (sunti halia, rabon, kencur). Artinya, Aceh tidak hanya menyalin, tetapi juga menafsirkan ulang agar sesuai dengan ekologi dan budaya setempat.
Gula Jok: Dari Dapur ke Ruang Operasi.
Contoh lain adalah gula jok atau gula aren asli Kutacane. Dalam satu kisah yang sempat dimuat media, seorang profesor yang divonis harus menjalani operasi jantung batal dioperasi setelah rutin mengonsumsi gula jok. Penyumbatan pembuluh darahnya bersih. Memang, kisah ini lebih mirip anekdot daripada bukti klinis. Namun di balik itu ada pesan besar, masyarakat percaya pada kekuatan herbal lokal. Gula aren yang sederhana, yang dijual di pasar seharga Rp15 ribu per 4 ons, bisa memunculkan narasi keajaiban. Kepercayaan ini bukan sekadar mitos. Riset modern menunjukkan gula aren mengandung antioksidan tinggi, mineral esensial, serta indeks glikemik lebih rendah dibanding gula tebu. Artinya, gula aren memiliki nilai kesehatan yang patut diteliti lebih jauh.
Makna Sosial dan Identitas.
Dari makjun istana hingga rabon dan gula jok, ada benang merah yang sama yaitu obat bukan hanya zat kimia, tetapi juga identitas budaya. Obat adalah bagian dari cara suatu masyarakat melihat tubuh, sakit, dan sembuh. Ketika orang Aceh menumbuk daun rabon, itu bukan sekadar terapi medis, tetapi juga praktik budaya yang diwariskan dari ibu ke anak, demikian penjelasan budayawan Aceh T.A. Sakti. Ketika Sultan Turki menyimpan makjun di istana, itu bukan sekadar resep, melainkan simbol kemakmuran dan otoritas. Itulah mengapa naskah pengobatan selalu ditulis dengan gaya hiperbolik “segala penyakit akan hilang.” Bukan karena penulisnya naif, melainkan karena teks itu berfungsi sebagai penenang psikologis, menumbuhkan keyakinan, sekaligus menjaga legitimasi sosial.
Peluang Ekonomi Herbal Modern.
Kini, ketika dunia semakin haus produk alami, warisan ini membuka peluang besar. Pasar global herbal bernilai ratusan miliar dolar setiap tahun. Indonesia memiliki biodiversitas luar biasa, Aceh punya jejak panjang ilmu pengobatan. Pertemuan keduanya bisa melahirkan ekonomi baru. Bayangkan jika Makjun Sultan Negeri Rum dikaji ulang dengan pendekatan farmakologi modern. Lalu rabon dan gula jok diolah dengan standar industri, diberi label halal, dipasarkan dengan narasi sejarah. Obat istana Turki bertemu dengan herbal kampung Aceh, menjadi brand global dengan daya tarik ilmiah sekaligus kultural. Daun kratom, dikenal dengan nama ilmiah Mitragyna speciosa, telah lama digunakan oleh masyarakat di Subulussalam Aceh untuk keperluan medis tradisional. Daun ini dipercaya memiliki efek analgesik, stimulan, dan dapat membantu mengatasi kecanduan opioid.
Menjaga Warisan, Menyongsong Masa Depan.
Kisah makjun dari Turki dan herbal Aceh memberi pelajaran penting. Pertama, kesehatan selalu lahir dari persilangan budaya: ilmu Arab, Turki, Melayu, dan lokal berpadu. Kedua, pengobatan tidak boleh hanya dipandang secara biomedis, tetapi juga sebagai warisan identitas dan ekonomi. Ketiga, revitalisasi herbal lokal harus dilakukan bukan dengan romantisme semata, tetapi dengan riset ilmiah, regulasi jelas, dan pengelolaan modern. demikian naskah lama menutup resepnya dengan larangan: “jangan kena angin,” demikian pula kita mesti menjaga warisan ini agar tidak tergerus modernisasi yang melupakan.
Penutup.
Makjun Sultan Negeri Rum bukan sekadar resep tua. Ia adalah jembatan antara Istanbul dan Aceh, antara istana dan rumah tangga, antara tradisi dan modernitas. Di dalamnya ada pelajaran tentang bagaimana manusia meramu kesehatan dari bahan sederhana, lalu menambahkan keyakinan, mistik, dan identitas. Dan ketika kita kembali menanam rabon di halaman rumah, atau meminum gula jok dari Nagan Raya, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali warisan” en datu”. Warisan yang bisa menjadi modal kesehatan, kebanggaan budaya, bahkan masa depan ekonomi. Karena di balik setiap obat tradisional, tersimpan doa nenek moyang agar kita hidup sehat, kuat, dan tetap terhubung dengan akar peradaban. (email:rajuddin@usk.ac.id)